[Praktikum Bahan Bangunan Laut Pekan ke-1] Kelompok 3 - Abednego Andries

Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 28 September 2017
Waktu Praktikum             : Pukul 13.00 – 15.00 WIB
Tempat Praktikum           : Laboratorium Rekayasa Struktur, Gedung CIBE Lantai BS 2 – Lantai 1,
                                           Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia

Gambar 1. Abednego Andries

Gambar 2. Kelompok 3 dan Kondisi Lab

Pemeriksaan Berat Volume Agregrat

Tujuan
Untuk menghitung berat volume agregat halus, kasar, atau campuran.

Penjelasan Umum
Berat volume agregat merupakan perbandingan antara berat material kering dengan volumenya. Berat volume agregat digunakan untuk menentukan proporsi agregat yang digunakan dalam campuran.

Alat
  1. Timbangan dengan ketelitian 0.1% berat contoh
  2. Saringan / talam
  3. Tongkat pemadat
  4. Mistar 
  5. Sekop
  6. Wadah baja berbentuk silinder beserta alat pemegang sesuai dengan tabel berikut :
Tabel 1.1 Spesifik Wadah Baja
Benda Uji
Agregat halus dan agregat kasar.

Prosedur
Masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan Tabel 1.1. Keringkan dengan oven, suhu pada oven (110 ± 5)oC sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
  1. Berat isi lepas
    • Timbang dan catatlah berat wadah (W.1)
    • Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butiran-butiran dari ketinggian 5cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh
    • Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
    • Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W.2)
    • Hitunglah berat benda uji (W.3=W.2-W.1)
  2. Berat isi agregat ukuran butiran maksimum 38,1 mm (1,5") dengan cara penusukan menggunakan tongkat pemadat
    • Timbang dan catatlah berat wadah (W.1)
    • Isi wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali secara merata
    • Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
    • Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W.2)
    • Hitunglah berat benda uji (W.3=W.2-W.1)
  3. Berat isi pada agregat ukuran butiran antara 38,1 mm (1,5") - 101,1 mm (4") dengan cara penggoyangan
    • Timbang dan catatlah berat wadah (W.1)
    • Isi wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal
    • Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur berikut :
      • Letakkan wadah di atas tempat yang kokoh dan datar, angkatlah salah satu sisinya setinggi 5 cm kemudian lepaskan
      • Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan. Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap ssi
    • Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
    • Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W.2)
    • Hitunglah berat benda uji (W.3=W.2-W.1)
 Gambar 3

 Gambar 4

 Gambar 5

 Gambar 6

Gambar 7
Analisis dan Hasil
                                               
Tabel 1.2 Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar

Tabel 1.3 Pemeriksaan Berat Volume Agregat Halus
Analisis Saringan Agregat Halus dan Agregrat Kasar

Tujuan
Untuk menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat halus dan agregat kasar dengan uji saringan.
Penjelasan Umum
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan distribusi butiran agregat. Data distribusi butiran pada agregat diperlukan dalam perencanaan adukan beton. Pelaksanaan penentuan gradasi ini dilakukan pada agregat halus dan agregat kasar.

Alat
  1. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0.2% dari beratbenda uji
  2. Satu set saringan dengan ukuran :
    Tabel 2.1 Spesifikasi Saringan
  3. Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk pemanasan sampai (110 ± 5)oC
  4. Alat pemisah saringan
  5. Talam - talam
  6. Kuas, sikat kawat, sendok, dan alat-alat lainnya.

Benda Uji
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara perempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan pada tabel perangkat saringan.

Prosedur
  1. Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan pada temperatur (110 ± 5)oC, kemudian dinginkan pada temperatur ruangan
  2. Timbanglah kembali berat sampel agregat yang digunakan
  3. Persiapkan saringan yang akan digunakan
  4. Setelah saringan disusun, letakkan sampel agregat di atas saringan
  5. Goyangkan saringan dengan tangan / mesin
  6. Hitung berat agregat pada masing - masing nomer saringan
  7. Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0.3% dari berat semula sampel agregat yang digunakan, hasilnya tidak dapat digunakan.
 Gambar 8

 Gambar 9

Gambar 10

Analisis dan Hasil
Tabel 2.2 Analisis Saringan Agregat Halus
Kurva 2.1 Kurva Gradasi Agregat Halus
Tabel 2.3 Analisis Saringan Agregat Kasar
Kurva 2.1 Kurva Gradasi Agregat Kasar


Pemeriksaan Kadar Organik dalam gregat Halus


Tujuan Percobaan

           Mengetahui kadar organik yang terkandung dalam agregat halus

 Alat dan Bahan
- Botol gelas tidak berwarna dengan volume sekitar 350 mL yang mempunyai tutup dari karet gabus atau lainnya yang tidak larut dalam NaOH.
- Standard warna (Organik plate).
- Larutan NaOH 3%.
- Contoh pasir dengan volume 115 mL (1/3 volume botol).
Prosedur Percobaan
 a.   Masukkan 115 mL pasir ke dalam botol tembus pandang (kurang lebih 1/3 isi botol)
b.  Larutan NaOH 3% ditambahkan. Setelah dikocok, isinya harus mencapai kira-kira ¾ volume botol
 c.   Botol tersebut ditutup dan dikocok hingga lumpur yang menempel pada agregat nampak  terpisah dan dibiarkan selama 24 jam agar lumpu tersebut mengendap
d. Setelah 24 jam, warna cairan yang terlihat dibandingkan dengan standar warna no.1 pada organic plate (apakah lebih tua atau lebih muda)
 Gambar 11

 Gambar 12


 Gambar 13 sebagai Hasil (Standar Warna No. 1)

Hasil Pengamatan
Setelah dibiarkan selama 24 jam, air diatas bahan di dalam tabung berubah warna menjadi kusam. Jika dibandingkan dengan standar warna pada organic plate, warnanya mirip dengan standar warna no. 2

Analisis Data
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh larutan yang berwarna jingga. Warna yang mirip dengan no.2 pada standar warna menyatakan bahwa bahan ini layak digunakan untuk mix concrete design karena batas wajar yang diperbolehkan adalah warna No. 2 pada organic plate.

Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus


Tujuan Percobaan

Menentukan persentase kadar lumpur dalam agregat halus yang akan digunakan sebagai bahan campuran beton

Alat dan Bahan
-          Gelas pngukur
-          Alat pengaduk
-          Pasir secukupnyadalam kondisi lapangan
-          Air
Prosedur
a.      Contoh benda uji dimasukkan kedalam gelas ukur
b.      Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur
c.      Gelas ukur dikocok untuk mencuci agregat halus dari lumpur
d.      Simpan gelas pada tempat yang datar dan dibiarkan lumpur mengendap setelah 24 jam
e.      Ukur tinggi lumpur (V2) dan tinggi pasir (V1)

Gambar 14

 Gambar 15 sebagai Hasil

Hasil pengamatan
Volume lumpur : 5 ml
Volume pasir : 50 ml
Kadar lumpur : 5 / (50+5) = 9,09 %
Analisis
       Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar lumpur dari agregat halus tersebut sebesar 9,09%. Sedangkan, persentase kadar lumpur maksimum yang diterima adalah 5%. Maka, bahan agregat halus ini kurang baik untuk digunakan dalam mix design.

Pemeriksaan Kadar Air Agregat

Tujuan

Menentukan besarnya kadar air yang terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan.

Alat dan Bahan
-         Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh
-          Oven
-          Talam logam tahan karat dengan kapasitas besar bagi tempat pengeringan benda uji
-          Contoh agregat kasar dan agregat halus masing-masing 500 gram
Prosedur
a.      Timbang dan catat berat talam (W1)
b.      Masukkan benda uji kedalam talam, kemudian timbang ulang (W2)
c.       Hitung berat benda uji W3=W2-W1
d.      Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven pada suhu (110 ± 5)oC  dingga beratnya tetap.
e.      Timbang lagi dan catat beratnya W4
f.        Hitung berat benda uji yang sudah kering W5=W4-W1





 Gambar 16

 Gambar 17

 Gambar 18

Gambar 19
Analisis dan Hasil
Tabel Pemeriksaan Kadar Air Agregat
Observasi I (Kelompok A)
Agregat Halus
Agregat Kasar
A.  Berat wadah
149 gram
  146 gram
B. Berat wadah + benda uji
1643 gram
2146 gram
C.  Berat benda uji (B-A)
1494 gram
2000 gram
D. Berat benda uji kering
1334 gram
1912 gram
Kadar air = (C-D)/DX100%
11,994 % [KA1]
4,603 % [KA1]
Observasi I (Kelompok C)
A.  Berat wadah
148 gram
160 gram
B. Berat wadah + benda uji
1280  gram
2160  gram
C.  Berat benda uji (B-A)
1132 gram
2000 gram
D. Berat benda uji kering
1020 gram
1890 gram
Kadar air = (C-D)/DX100%
10,980 % [KA2]
5,820 % [KA2]
Kadar air rata – rata (KA1+KA2)/2
11,487 %
5,059 %
Analisis
            Kadar air pada agregat kasar sebesar 6,569% dan pada agregat halus 11,487%. Hal ini dikarenakan agregat halus sebelumnya ditempatkan di tempat yang lembab sedangkan agregat kasar ditempatkan di tempat yang kering
 Dokumentasi

Berat Jenis dan Penyerapat Agregrat


AGREGAT HALUS

Tujuan
Untuk menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus. Specific gravity ini diperlukan untuk menentukan nilai bulk specific gravity, bulk specific gravity SSD, atau apparent specific gravity. 
 Alat dan Bahan
- Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram dengan kapasitas minimum sebesar 1000 gram
- Piknometer dengan kapasitas 500 gram
- Cetakan kerucut pasir
Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir
- Berat contoh agregat halus 500 gram.
            Prosedur
a.      Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik.
b.      Sebagian dari contoh dimasukkan ke dalam cetakan kerucut pasir (metal sand cone mold). Benda uji lalu dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper) dengan jumlah tumbukan sebanyak 25 kali setiap satu dari tiga bagian yang terisi. Kondisi SSD diperoleh ketika butir-butir pasir longsor/runtuh ketika cetakan tersebut diangkat.
c.       Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang- goyangkan piknometer. Rendamlah piknometer dengan suhu air 73,43o F selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
d.      Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu 213,13o F. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam.
e.      Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur 73,43o F dengan ketelitian 0,1 gram.
 Gambar 20

 Gambar 21

 Gambar 22

 Gambar 23

 Gambar 24

 Gambar 25

 Gambar 26

Perhitungan
Apparent Specific-Gravity                               = E / (E + D - C)
Bulk Specific-Gravity Kondisi Kering             = E / (B + D - C)
Bulk Specific-Gravity Kondisi SSD                = B / (B + D - C)
Persentase Absorpsi                                        = ( B – E ) / E x 100%
Keterangan:
A = Berat piknometer
B = Berat contoh kondisi SSD
C = Berat piknometer + contoh + air
D = Berat piknometer + air
E = Berat contoh kering
Hasil Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus
Observasi I (Kelompok A)
A. Berat Piknometer
170 gram
B.  Berat contoh kondisi SSD
500 gram
C.  Berat piknometer + air + contoh SSD
966 gram
D.  Berat piknometer + air
669 gram
E. Berat Contoh Kering
419 gram
Apparent Spesific Gravity :    
3,434 %
Bulk Spesific Gravity (Kering) :    
2,064 %
Bulk Spesific Gravity (SSD) :    
2,463 %
Persentase Absorpsi Air :    
19,332 %
Observasi II (Kelompok B)
A. Berat Piknometer
170 gram
B.  Berat contoh kondisi SSD
500 gram
C.  Berat piknometer + air + contoh SSD
965 gram
D.  Berat piknometer + air
668 gram
E. Berat Contoh Kering
497 gram
Apparent Spesific Gravity :    
2,485 %
Bulk Spesific Gravity (Kering) :    
2,448 %
Bulk Spesific Gravity (SSD) :    
2,463 %
Persentase Absorpsi Air :    
0,604 %
Observasi II (Kelompok C)
A. Berat Piknometer
171 gram
B.  Berat contoh kondisi SSD
500 gram
C.  Berat piknometer + air + contoh SSD
957 gram
D.  Berat piknometer + air
668 gram
E. Berat Contoh Kering
425 gram
Apparent Spesific Gravity :    
3,125 %
Bulk Spesific Gravity (Kering) :    
2,014 %
Bulk Spesific Gravity (SSD) :    
2,3697 %
Persentase Absorpsi Air :    
17,65 %
Rata – Rata
Apparent Specific Gravity
3,0147 %
Bulk Specific Gravity (kering)
2,1753 %
Bulk Specific Gravity (SSD)
2,4319 %
Persentase Absorpsi Air
12,5285 %


            Analisis Data
Dari hasil percobaan untuk agregat halus, didapatkan nilai Apparent specific gravity sebesar 3,0147%, Bulk Specific Gravity (kering) 2,1753%, Bulk Specific Gravity (SSD) 2,4319%, Persentase Absorpsi Air 12,5285 %. Data-data tersebut digunakan untuk koreksi saat penentuan koreksi dalam mix design.

AGREGAT KASAR
Tujuan Percobaan
Untuk menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus. Specific gravity ini diperlukan untuk menentukan nilai bulk specific gravity, bulk specific gravity SSD, atau apparent specific gravity. 
Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram dan kapasitas minimum 5 Kg
- Keranjang besi dengan diameter 203,2 mm (8”) dan tinggi 63,5 mm (2,5”)
- Alat penggantung keranjang
- Handuk atau kain pel
- Agregat kasar sebanyak 3 kg dalam keadaan SSD


Gambar 27

Gambar 28

Gambar 29

Gambar 30

Gambar 31

Gambar 32
Prosedur Percobaan
a.      Benda uji direndam selama 24 jam
b.      Benda uji digulung dengan handuk, sehingga air permukaan habis, tetapi harus masih tampak lembab (kondisi SSD) , kemudian timbang benda uji (A).
c.       Benda uji dimasukkan kedalam keranjang dan rendam kembali kedalam air. Temperatur air (73,4±3) 0F dan kemudian timbang kembali (B). Sebelum menimbang, container diisi dengan benda uji, lalu digoyang – goyangkan didalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap.
d.      Keringkan benda uji pada temperatur (212 ± 130) 0F, kemudian didinginkan dan ditimbang(C).



Hasil Pengamatan
Apparent Specific grafity                     
Bulk Specific grafity kondisi kering     
Bulk Specific grafity kondisi SSD        
Persentase absorbsi                           
Keterangan:
A = berat (gram) contoh SSD
B = berat (gram) contoh dalam air
C = berat (gram) kering di udara

Tabel Hasil Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar
Observasi I (Kelompok A)
A.    Berat SSD
3000 gram
B.    Berat contoh dalam air
1949,5 gram
C.    Berat contoh kering di udara
2890 gram
Apparent Spesific Gravity :    
3,072 %
Bulk Spesific Gravity (Kering) :    
2,751 %
Bulk Spesific Gravity (SSD) :    
2,855 %
Persentase Absorpsi Air :    
3,81 %
Observasi II (Kelompok B)
A.    Berat SSD
2710 gram
B.    Berat contoh dalam air
1691,5 gram
C.    Berat contoh kering di udara
2652 gram
Apparent Spesific Gravity :    
2,76 %
Bulk Spesific Gravity (Kering) :    
2,6 %
Bulk Spesific Gravity (SSD) :    
2,66 %
Persentase Absorpsi Air :    
 2,19 %
Observasi II (Kelompok C)
A.    Berat SSD
2784 gram
B.    Berat contoh dalam air
1713,5 gram
C.    Berat contoh kering di udara
2677 gram
Apparent Spesific Gravity :    
2,778 %
Bulk Spesific Gravity (Kering) :    
2,501 %
Bulk Spesific Gravity (SSD) :    
2,601 %
Persentase Absorpsi Air :    
3,997 %
Rata – Rata
Apparent Specific Gravity
2,87 %
Bulk Specific Gravity (kering)
2,617 %
Bulk Specific Gravity (SSD)
2,706 %
Persentase Absorpsi Air
3,33 %

Analisis Data
Dari hasil percobaan didapatkan nilai apparent specific gravity, bulk specific gravity kering, bulk specific gravity pada saat SSD, dan presentase absorpsi air dari agregat kasar yaitu 2,87%, 2,617%,  2,706%, 3,33%. Data hasil percobaan tersebut akan digunakan untuk menghitung koreksi berat agregat kasar dan air pada mix design

Komentar

Postingan Populer